Skip to main content

Bungkam apatisme mahasiswa

"berikan aku sepuluh pemuda maka akan ku goncangan dunia tapi berikan aku100 orang tua maka akan aku cabut gunung Semeru dan akar-akarnya" Soekarno
Saya rasa ini ungkapan sang proklamator yang sangat tepat untuk menjadi pembuka tulisan ini,  pada zaman yang serba elektronik ini generasi muda Indonesia di manjakan dengan berbagai macam gandjet ada yang gedjet versi positif dan ada versi negatif hal demikian tidak dapat kita hindarkan lagi karena negara kita sudah menerima pasar bebas jadi memang bebas semuanya serba bebas.
Generasi elektronik ini tidak hanya merasuki pola pemikiran orang dewasa akan tetapi juga mempengaruhi terhadap anak-anak yang seharusnya belum layak untuk mengenal itu.
Pemuda hari ini adalah pemimpin yang akan datang bagaimana mau menjadi seorang pemimpin jika kita hari ini tidak mau mengerti akan keadaan lingkungan sekitar kita, bahkan banyak generasi muda Indonesia hari ini yang tidak ingin tau (apatis) akan keadaan lingkungan sekitarnya, ruang-ruang publik yang ada di kampus seharusnya di manfaatkan untuk saling bertukar fikriran (diskusi) tetapi realita nya hari ini ruang publik kampus di isi dengan kesibukan individu masing-masing bahkan di dalam satu perkumpulan atau kelompok pun kita tidak lagi ingin menanyakan kabar teman di samping kita tetapi kita menanyakan sudah sampai level berapa kamu nge-game hari ini, ini mungkin langkah awal kolonialisme untuk menjajah indonesia secara tidak langsung dengan cara menciptakan generasi muda yang apatis, banyak dari ilmuwan Indonesia di manfaatkan oleh orang-orang barat untuk meneliti apa yang di butuhkan di Indonesia saat ini dan itu dijadikan bahan kolonial untuk menjajah indonesia contoh: Indonesia butuh kendaraan yang ceapat di ciptakan kendaraan yang cepat oleh orang-orang barat dan hal seperti itu tidak di manfaatkan baik oleh generasi muda Indonesia sehingga menimbulkan hal yang tidak bagus terhadap generasi muda Indonesia.
Saya rasa hari ini sebagian kampus sudah cukup bagus memberikan solusi kepada generasi muda Indonesia dengan ada atau membebaskan mahasiswa/i nya untuk berorganisasi. Hari ini wadah yang paling tepat untuk menciptakan generasi yang produktif adalah organisasi karena organisasi lah lingkungan yang sangat mensupport pemuda untuk berfikir dan kreatif. Dan saya rasa tawaran organisasi hari ini juga sudah cukup baik. Adanya organisasi ekstra dan intra tinggal kita untuk memilih mana yang lebih tepat untuk kita berekspresi dan mana yang lebih relevan untuk mengembangkan ideologi kita, menyanggah dari tulisannya Husni sy yang beranggapan bahwa organisasi ekstra (organisasi daerah) saat ini tidak mempunyai daya tawar yang lebih akan tetapi hanya untuk menguasai dan menjadi alat kepentingan individu saja. Hal ini sangat tidak satu pemahaman dengan penulis karena banyak organisasi daerah yang memberi kontribusi terhadap daerahnya misalkan organisasi daerah yang berada di luar daerah nya banyak yang sudah melakukan pemeran budaya dan pementasan tokoh daerahnya masing-masing.
Organisasi daerah (Orda) hari ini hanya perlu perbaikan di bidang pengkaderan atau sistem pengkaderan yang lebih menarik dan merubah pola pemikir yang kesenioritasan. Organisasi daerah telah memberikan solusi yang tepat untuk generasi gadjet dan telah berupaya untuk menciptakan generasi yang peka akan kejadian di lingkungan sekitarnya dan salah satu langkah untuk membungkam generasi yang apatis saya rasa organisasi daerah telah memberikan jawaban yang tepat.

Oleh: paii_bento
Jogjakarta,03 November 2017

Comments

Popular posts from this blog

Bayi bernama himaji (himpunan Mahasiswa Jambi)

Masih ingatkah kalian semua dengan pelajaran sejarah sewaktu di sekolah? SD, SMP, dan SMA/SMK/MA, apapun jurusannya, pastilah kita pernah membaca atau setidaknya pernah mendengar istilah “Sumpah Pemuda”. Sumpah pemuda yang selalu diperingati pada 28 Oktober bermula ketika pemuda Indonesia mulai “sadar” akan pentingnya persatuan. Kesadaran itu muncul atas kondisi, psikologi, dan harapan yang besar untuk bangsa ini. Kemudian berkumpullah pemuda dari Jong Java, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dan lainnnya untuk merumuskan sebuah konsep Ideologis dengan nama SUMPAH PEMUDA. Mahbub Djunaidi, pengarang Novel “Dari Hari ke hari”, pernah mengungkapkan bahwa “Setolol-tololnya orang adalah mereka yang tak tahu apa itu sejarah dan sehina-hinanya orang adalah mereka yang memalsukan sejarah.” Mungkin saya sedikit “hina”, tetapi saya berusaha untuk tidak tolol seperti apa yang diungkapkan ole...

"kita"

kita adalah orang-orang yang sedang berjalan berjalan di dalam barisan yang rapi kamu di barisan terdepan , aku di tengah , dan adik-adik kita di belakang kita sedang berjalan untuk membangunkan kemalasan di pojok-pojok perkotaan kita berangkat dari kegelisahan kita bersama mulai dari ngelawak di warung kopi sampai bertengkar di forum diskusi di sunyi malam ini aku sampaikan kepada kalian bahwa perjalanan panjang kita akan segera di mulai kita akan menempuh terangnya siang dan pekatnya kegelapan malam dengan sebatang lilin ini kita akan menempuh gelapnya malam dan lilin inilah yang akan menjadi sumber penunjuk kita teman hari sudah hampir pagi lilin sudah habis terbakar dan mata ku mulai perih mari kita yakinkan hati kita bahwa perjalanan ini adalah perjalanan yang suci jogjakarta, 29 mei 2017 02:49 wib paii_bento

HIMAJI BE-LACAK

beberapa minggu yang lalu tepatnya pada tanggal 15-16 april 2017 himpunan mahasiswa jambi (himaji) uin su-ka yogyakarta melaksanan malam keakraban (makrab) dengan mengangkat tema HIMAJI BE-LACAK , ada apa di balik tema yang diangkat oleh himaji uin suka ini ? , setelah di telusuri ternyata ada beberapa faktor yang menyebabkan himaji uin su-ka mengangkat tema ini, yaitu dengan alasan bahwa saat ini lacak sendiri sedang buming-buming nya di kalangan kaum pemuda provinsi jambi dan juga himaji uin su-ka ingin memperkenalkan identitas budaya pemuda provinsi jambi di tanah jawa (yogyakarta), selain itu angota himaji uin su-ka juga lagi ngidam2nya sama lacak di karenakan tidak dapat memakai lacak secara langsung karena keterbatasan jaringan untuk ke provinsi jambi itu sendiri , setelah di rapatkan oleh semua jajaran yang ada di himaji maka di angkatlah tema makrabnya HIMAJI BE-LACAK guna untuk mengurangi rasa keinginan yang tak terbendung untuk memakai lacak. "angota himaji memang sengaj...